Jumat, 07 April 2017

Daya Saing Perguruan Tinggi Muhammadiyah Masih Rendah


DOKTOR PSDM. Sekretaris Unit Penjaminan Mutu Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar, Dr Edi Jusriadi (kedua dari kanan), foto bersama Rektor Unismuh Dr Abdul Rahman Rahim (ketiga dari kiri) seusai ujian promosi doktor bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, 23 Februari 2017. (ist)




-------





Daya Saing Perguruan Tinggi Muhammadiyah Masih Rendah


Secara kuantitas, jumlah perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) tercatat paling banyak di antara keseluruhan perguruan tinggi swasta (PTS) di bawah koordinasi Kopertis Wilayah IX Sulawesi, yaitu 9,13 persen. Namun dari sisi daya saing institusi, kuantitas dan kualitas dosen (aspek intangible assets atau intellectual capital, dan aspek kinerja) tergolong masih rendah.
“Maka, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, yaitu daya saing, kualitas tata kelola institusi, serta permasalahan kualitas sumber daya manusia dan proses akademik,” kata Sekretaris Unit Penjaminan Mutu (UPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Edi Jusriadi SE MM, kepada wartawan di Makassar, Jumat, 31 Maret 2017.
Dari sisi daya saing institusi, mengutip data yang dirilis kombinasi hasil penilaian QS World University Rankings (QS.World), Webometrics Ranking of World Universities, dan BAN-PT untuk level regional, Edi menyebut hanya Unismuh Makassar yang masuk 20 perguruan tinggi terbaik di Indonesia bagian timur, yakni berada pada peringkat 12 Provinsi, peringkat 257 Nasional, peringkat 15.801 Dunia, dengan akreditasi institusi B.
Untuk peningkatan kualitas dosen, tata kelola institusi, dan daya saing PTM, dia menyarankan perlunya pengembangan dan peningkatan intellectual capital (modal intelektual) melalui proses pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
“Intellectual capital yaitu kompetensi yang dimiliki seorang dosen, baik kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, maupun kompetensi kepribadian yang dapat menunjang pelaksanaan tridharma atau caturdharma perguruan tinggi Muhammadiyah,” jelas Edi.
Pengembangan intellectual capital, katanya, perlu dipahami secara bersama sebagai bagian dari investasi organisasi yang bersifat jangka panjang, sehingga dibutuhkan political will and policy (kemauan politik dan kebijakan) dari para pimpinan PTM di Sulawesi Selatan.
Tata kelola sumber daya manusia di PTM, perlu mendapat perhatian serius dari pimpinan, karena tuntutan pemerintah dan stakeholder akan pendidikan yang berkualitas, akan menjadi ancaman bagi PTM apabila tidak melalukan perbaikan mutu sejak dini, khususnya terkait kualitas dosen, mulai dari jenjang pendidikan, jabatan fungsional, sertifikasi, hingga kegiatan tridharma.
“Tetapi juga akan menjadi peluang yang strategis bagi perguruan tinggi Muhammadiyah apabila tata kelola sumber daya manusia dosen ini mampu diatasi secara cepat,” tegas Edi, yang meraih gelar doktor dalam bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, 23 Februari 2017.

Dosen S1

Dalam disertasinya yang berjudul “Pengembangan Intellectual Capital dalam Mendukung Perilaku Kerja dan Kinerja Dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan”, Edi mengemukakan data dan fakta bahwa berdasarkan data QS-World, Webometrics, dan BAN-PT pada Februari 2016, dari 1.108 dosen yang mengajar pada 19 perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi Selatan, masih ada 26,51 persen dosen yang berijazah S1.
“Selain itu, masih ada 51 persen dosen yang belum memiliki jabatan fungsional, serta 83,60 persen dosen belum mendapatkan pengakuan sebagai dosen profesional,” ungkapnya.
Tentang tingkat partisipasi dosen PTM dalam pengembangan skill atau keterampilan dan kompetensi melalui kegiatan pelatihan wajib dan penunjang yang meliputi Pelatihan Program Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti), applied approach (AA), baitul arqam, dan lain-lain, Edi menyebut juga partisipasinya masih rendah.
“Dosen yang telah mengikuti Pekerti baru 57,53 persen, yang telah mengikuti Pelatihan AA baru 45,20 persen, yang ikut baitul arqam 84,24%, sedangkan yang mengikuti pelatihan penunjang seperti seminar, workshop, lokakarya, dan pengembangan skill lainnya, keikutsertaan dosen lebih banyak pada level lokal dan sebagai peserta,” papar Edi.
Fakta lain, katanya, dosen PTM belum melaksanakan beban Satuan Kredit Semester (SKS) setara 12-16, karena belum rasio antara jumlah dosen dengan mahasiswa, sehingga banyak dosen harus melaksanakan pendidikan dan pengajaran lebih dari 16 SKS.
Sementara dalam hal penelitian dan publikasi ilmiah, lanjut Edi, partisipasi dosen PTM dalam penelitian, khususnya yang memperoleh dana hibah hanya 53,42 persen atau 78 judul selama 3 tahun (2013-2015).
“Muhammadiyah selama ini terkesan agak menelantarkan profesionalisme untuk mengembangkan dirinya dalam mencapai tujuan organisasi,” ujar pria kelahiran Bontonyeleng, Kabupaten Bulukumba, 22 Februari 1979.
Dia menambahkan, kelemahan Muhammadiyah juga terletak pada profesionalisme yang disebabkan karena sistem tata kelola PTM dan perilaku karyawannya, yakni profesionalisme belum menjadi budaya kerja.
“Hasil penelitian Rahman Rahim (sekarang menjabat Rektor Unismuh Makassar, red) pada tahun 2012, juga menemukan bahwa tingkat kesejahteraan pegawai pada perguruan tinggi Islam di Sulawesi Selatan masih rendah,” ungkap Edi. (win)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar