Kamis, 29 September 2016

Abubakar Idhan, LP3M Unismuh, dan Bawang Merah


TANGAN DINGIN. Di tangan dingin Abubakar Idhan, LP3M Unismuh Makassar menjelma menjadi salah satu lembaga penghasil penelitian terbanyak di antara ratusan perguruan tinggi swasta di lingkungan Kopertis Wilayah IX Sulawesi. Abubakar meraih gelar gelar doktor pertanian setelah 30 tahun jadi dosen, dengan meneliti bawang merah. (ist)


------





Abubakar Idhan, LP3M Unismuh, dan Bawang Merah



Dalam beberapa tahun terakhir, nama Abubakar Idhan tampaknya tidak bisa dipisahkan dengan Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Di tangan dinginnya, LP3M Unismuh Makassar menjelma menjadi salah satu lembaga penghasil penelitian terbanyak di antara ratusan perguruan tinggi swasta di lingkungan Kopertis Wilayah IX Sulawesi.
Abubakar yang menjabat Sekretaris LP3M Unismuh Makassar, bersama Ir HM Amin Ishak MSc selaku ketua, dan beberapa dosen yang menggawangi lembaga tersebut, bukan hanya terus-menerus berhasil mendapatkan tambahan dana penelitian dari Kemenristek-Dikti, melainkan juga berhasil menaikkan peringkat Unismuh Makassar dalam hal jumlah dana penelitian, yaitu dari Klaster Binaan menjadi Klaster Madya.
“Unismuh Makassar sudah masuk Klaster Madya dalam bidang penelitian perguruan tinggi. Tahun 2016, Unismuh Makassar memperoleh dana penelitian sebesar Rp5 miliar dari Kemenristek-Dikti,” jelas Abubakar kepada Operator Wartawan AKSI Unismuh Makassar, belum lama ini.
Rektor Unismuh Dr H Abdul Rahman Rahim SE MM, pun langsung memberikan apresiasi kepada ketua, sekretaris, dan anggota LP3M Unismuh atas prestasi mereka menaikkan peringkat Unismuh Makassar dari klaster binaan menjadi klaster madya dalam bidang penelitian perguruan tinggi.
Apresiasi dan ucapan terima kasih tersebut disampaikan pada acara Sosialisasi Klaster Madya Penguatan Strategi Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar, Sabtu, 3 September 2016.
“Kini Unismuh Makassar memiliki dana peneitian sebesar tujuh miliar, terdiri atas lima miliar dari Kementerian Ristek-Dikti dan dua miliar dari Unismuh Makassar. Ini harus menjadi motivasi bagi kita semua untuk aktif melakukan riset. Jangan sampai uang yang lima miliar dari kementerian itu tidak bisa dihabiskan, karena bisa-bisa turun lagi peringkat penelitian kita,” tutur Rahman.

Jadi Dosen Sejak 1986

Abubakar Idhan yang lahir di Bulukumba, pada 2 Juni 1958, sebenarnya baru sekitar sembilan tahun menjadi dosen di Unismuh Makassar, tepatnya sejak 1 Januari 2007.
Sebelumnya, suami dari Siti Zakia Djuddin, ayah dari empat anak, dan kakek dari dua cucu ini, adalah dosen Universitas 45 Makassar (sekarang Universitas Bosowa).
“Waktu itu (tahun 1986) di saya diangkat sebagai dosen tetap yayasan. Jadi, secara keseluruhan, saya sudah 30 tahun jadi dosen,” katanya.
Tahun 1992, anak dari Muhammad Idris (almarhum) dan Sitti Hawan (almarhumah) terangkat menjadi pegawai negeri sipil sebagai Dosen Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang Diperbantukan (DPK) di Universitas 45 Makassar.

Teliti Bawang Merah

Setelah 30 tahun jadi dosen dan di usianya yang ke-58 tahun, barulah ia berhasil meraih gelar doktor dalam bidang pertanian.
Abubakar Idhan berhasil meraih gelar doktor pertanian dari Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, pada 20 Januari 2016, setelah melakukan penelitian tentang produksi biji botani bawang merah.
Mengusung judul disertasi “Produksi Biji Botani Bawang Merah dengan Perlakuan Vernalisasi dan Giberellin (Ga) pada Dua Ketinggian Tempat”, Abubakar mengatakan, masalah utama dalam produksi biji botani bawang merah (True Shallot Seed/TSS) di Indonesia adalah kemampuan berbunga dan menghasilkan biji tanaman bawang merah masih rendah.
“Banyak faktor yang memengaruhi pembungaan dan pembijian bawang merah, antara lain faktor genetik (varietas), dan faktor cuaca, terutama panjang hari yang relatif pendek yakni kurang dari 12 jam, dan rata-rata temperatur udara yang cukup tinggi yakni di atas 18 derajat celcius di Indonesia, kurang mendukung terjadinya inisiasi pembungaan,” katanya.
Mengutip Sumarni (2013), Abubakar, mengatakan, aplikasi zat pengatur tumbuh giberelin (GA3) dapat menggantikan seluruh atau sebagian fungsi temperatur rendah dan hari panjang untuk inisiasi pembungaan.
Sehubungan dengan itu dan setelah melakukan dua kali percobaan pada penelitiannnya, Abubakar menyarankan bahwa produksi biji botani bawang merah dapat dikembangkan dengan menggunakan varietas Bangkok adaptasi Jeneponto, Varietas Bima Brebes, Varietas Mentes, Varietas Bauji, dan Varietas Manjung pada lokasi dataran tinggi (1000 m dpl).
“Produksi biji botani bawang merah pada ketinggian 1000 m dpl, perlu dikembangkan karena secara bersamaan dapat dihasilkan biji botani dan umbi konsumsi atau umbi bibit,” katanya di hadapan yang terdiri atas Prof Hazairin Zubair, Prof Elkawakib Syam’un, Prof Badron Zakaria, Dr Muhammad Riadi, Dr Amirullah Dahlan, Dr Novati Eny Dungga, dan Dr Syatrianty A Syaiful. (asnawin)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar